Sabtu, Agustus 15, 2015

Shinkansen Kebanggaan Jepang

Jepang dikenal sebagai negara yang maju dalam bidang ilmu pengetahuan. Hingga tahun 2014, ada 22 orang Jepang yang sudah menerima penghargaan Nobel. 19 orang diantaranya adalah penerima Nobel di bidang ilmu pengetahuan alam seperti fisika, kimia, kedokteran. Di Asia, Jepang secara mencolok berturut-turut menghasilkan penerima Nobel.


shinkansen (foto koleksi pribadi)
Salah satu contoh yang merupakan pusat dari teknologi Jepang adalah Shinkansen. Dan saya ingin sedikit bercerita mengenai Shinkansen ini.
Shinkansen merupakan kereta berkecepatan tinggi di Jepang. Pertama kali Shinkansen digunakan di Jepang adalah pada tahun 1964, yakni Shinkansen Tokaido yang menghubungkan antara Tokyo dengan Osaka. Selain menjadi kereta berkecepatan tinggi di Jepang, Shinkansen juga menjadi kereta berkecepatan tinggi di dunia.

Tahun 1964, tahun diselenggarakannya Olimpiade Tokyo, menjadi tahun yang begitu penting bagi Jepang. Dan Olimpiade Tokyo tahun 1964 ini bukan hanya menjadi Olimpiade yang pertama diselenggarakan di  Jepang saja tetapi juga di Asia. Shinkansen pun dibuat disesuaikan dengan penyelenggaraan olimpiade Tokyo. Tidak hanya Shinkansen, namun juga jalan bebas hambatan, kereta bawah tanah, monorel dan lain-lain juga satu demi satu dibenahi dan dibangun untuk penyelenggaraan Olimpiade Tokyo. Tepat jika dikatakan bahwa Olimpiade Tokyo merupakan peristiwa yang melambangkan bangkitnya kembali Jepang setelah mengalami kehancuran akibat kalah perang. Jadi tahun 1964 bagi negara Jepang merupakan tonggak bersejarah dan merupakan tahun yang harus diperingati. Pada tahun 1964 itu juga saya dilahirkan.
Setelah Tokaido Shinkansen dibangun pada tahun 1964, teknologi ini terus berkembang hingga berbagai wilayah Jepang. Hingga sekarang pun pembangunan Shinkansen masih terus berlanjut.

Shinkansen merupakan kereta berkecepatan tinggi dengan kecepatan tertinggi melebihi 300 km/jam. Tidak hanya cepat, Shinkansen juga tepat waktu, nyaman dan sangat aman. Sudah 50 tahun sejak pertama kali shinkansen dibuat, tapi hingga saat ini belum pernah terjadi kecelakaan yang menimbulkan penumpang meninggal dunia.

Pada tahun 2013, rata-rata keterlambatan per rangkaian Tokaido Shinkansen adalah 30 detik. Ini sudah termasuk rata-rata dari adanya kejadian gangguan alam seperti badai salju dan angin topan. Kalau tidak ada gangguan alam seperti itu Shinkansen tidak akan terlambat. Berjalan dengan tepat waktu tanpa keterlambatan beberapa detik merupakan hal yang biasa.

Di Jepang, tidak hanya Shinkansen, moda transportasi seperti kereta biasa, bus dan lain-lain beroperasi dengan tepat waktu. Orang-orang pun akan mematuhi waktu dengan disiplin. Orang Jepang kalau pergi ke luar negeri sering merasa terkejut dengan perbedaan mengenai ketepatan waktu antara di Jepang dan di luar negeri.

Tidak hanya mengenai waktu. Sering katanya orang Amerika terkejut ketika naik Shinkansen karena gerbong Shinkansen berhenti tepat di posisi berhenti seperti tanda di peron. Artinya ketika Shinkansen berhenti, pintu terbuka tepat berada di tanda pintu yang ada di peron.

Di Jepang, terutama di Tokyo, di peron kereta ada tanda posisi pintu terbuka ketika kereta berhenti. Para penumpang lalu akan membuat barisan sesuai dengan tanda tersebut menunggu kereta. Meskipun telah berkeliling melihat di seluruh dunia, sangat jarang saya melihat peron kereta yang bertanda seperti itu. Di tempat saya pernah tinggal, Los Angeles dan Berlin, saya tidak pernah melihat hal tersebut. Di London dan New York pun tidak ada. Tetapi di Jepang ada tanda posisi kereta berhenti dan kereta akan berhenti tepat pada bagian tersebut.

Tidak lama setelah Shinkansen dibuat, pada tahun 1969 kaisar Jepang melakukan perjalanan menaiki Shinkansen. Ada buku yang menuliskan pernyataan masinis waktu itu. Menurut buku tersebut, waktu berhentinya kereta harus tidak lebih dari plus minus 5 detik dan posisi berhentinya kereta harus tidak lebih dari 1 cm. 5 detik dan hanya 1 cm! Jadi kalau posisi berhenti bergeser 1.1 cm saja sudah tidak bisa diterima. Sedemikian tingginya orang Jepang berharap pada ketepatan.

Pada tanggal 11 Maret 2011, di Jepang terjadi bencana gempa bumi besar dan tsunami. Ini menyebabkan banyak korban dan kerusakan yang sangat besar. Pada saat itu, Tohoku Shinkansen dengan 27 gerbong sedang berjalan cepat dengan penumpang di dalamnya. Ini juga merupakan Shinkansen yang berjalan dengan kecepatan tertinggi. Akibat dari gempa besar ini, menurut Anda seberapa banyak gerbong yang keluar jalur dan seberapa banyak korban yang luka dan meninggal?

Jawabannya: tidak ada. Shinkansen mengerem mendadak dan berhenti ketika terjadi gempa dahsyat itu, tetapi semuanya tetap aman. Tidak ada satu pun gerbong yang keluar jalur serta tidak seorangpun menderita luka. Semua penumpang di dalamnya selamat.

Menurut Anda, kapan Shinkansen mulai bereaksi untuk mengerem mendadak agar berhenti? Berapa detik setelah terjadi gempa? Atau berapa menit?

Sebenarnya, ketika ada goncangan besar maka paling lambat (tidak lebih) 70 detik rem darurat akan bekerja dan shinkansen mengalami perlambatan kecepatan.

Mengapa hal demikian bisa menjadi mungkin?

Di sekeliling Shinkansen dipasang alat seismometer (alat ukur gempa) dan dilengkapi dengan Sistem Alarm dan Deteksi Gempa Darurat (Urgent Earthquake Detection and Alarm System) yang dengan cepat bisa menangkap adanya goncangan dan memperlambat rangkaian kereta. Seismometer ini akan mendeteksi adanya gempa dan selama guncangan paling lambat dalam 70 detik secara otomatis akan memfungsikan rem darurat (triggered the emergency brake). Karena itu ketika terjadi guncangan yang besar, kecepatan Shinkansen akan menjadi lambat sehingga tidak sampai terjadi keluar jalur serta bisa berhenti dengan selamat.


Saya berharap, pada waktu anda berkesempatan wisata ke Jepang bisa menikmati perjalanan dengan Shinkansen. Tidak hanya cepat, praktis dan nyaman tetapi juga sangat aman.


disalin apa adanya dari buku "MENGENAL JEPANG", penulis Yusuke Shindo (wakil duta besar Jepang hingga Maret 2015)

Rabu, Oktober 24, 2012

Rustono Tempeh


Beberapa tahun terakhir saya sedang mencari tahu keberadaan seorang sahabat ketika SMA. Kami saat itu bisa dibilang selalu beraktifitas bersama, dari sekedar jalan-jalan hingga belajarpun kita jalani sama-sama. Namanya Rustono.

Saya sudah coba menanyakan ke beberapa teman SMA hingga iseng-iseng bertanya pada ‘mbah google’. Pada saat itu yang sering muncul adalah Rustono, warga Indonesia yang tinggal di Jepang dan mendapat julukan si raja tempe dari Indonesia. Dari situlah awal mula saya tahu Rustono Tempeh. Rustono yang berbeda dengan Rustono yang sedang saya cari.

Namun demikian tidak serta merta saya mengenal Rustono Tempeh, karena memang tidak ada alasan khusus yang menjadikan kami harus saling kenal.

Hingga pada suatu waktu, entah bagaimana awal ceritanya akhirnya kami berteman di facebook dan dari sinilah semua cerita bermula.

Beberapa kali kami berkomunikasi melalui message di facebook, membicarakan tentang pandangan kami masing-masing mengenai berbagai macam hal hingga akhirnya berlanjut kami berkomunikasi melalui skype. Kadang bisa kami ngobrol hingga 2 jam, bertukar pikiran tentang tempe, tentang masa depan UKM di Indonesia dan banyak lagi.

Suatu waktu Rustono menyampaikan rencananya akan pulang kampung ke Indonesia untuk beberapa minggu. Dan saat itupun kami sepakat membuat janji untuk bertemu sekedar berbagi cerita secara langsung.

Membayangkan ngobrol dengan Rustono yang akan menjadi begitu menarik, dengan pandangan-pandangan yang dia miliki, begitu sederhana tapi sangat inspiratif membuat saya tidak sabar untuk menunggu kesempatan itu tiba. Namun kemudian saya terpikirkan, betapa sayangnya saya sendirian memperoleh kesempatan yang luar biasa itu. Akhirnya saya bilang ke Rustono, “mas, tolong bisa tidak kosongkan 1 hari untuk ngobrol sama saya?”. “ Untuk apa?”. “Untuk saya ngobrol dengan mas Rus. Tapi, di belakang saya ada 400 orang yang akan ikut mendengarkan! Sayang sekali obrolan dengan mas Rus hanya saya sendiri yang mendengarkan. Saya akan ajak mahasiswa dan para pengusaha tempe untuk bersama kita ngobrol rame-rame!”

Dan itulah yang terjadi, akhirnya kami mengadakan dialog bersama Rustono tempeh pada tanggal 22 September 2012 yang kami selenggarakan di gedung kementerian koperasi dan UKM, Kuningan Jakarta.

Acara yang bertajuk ‘Dialog Monozukuri, Ide Sederhana Berdampak Luar Biasa!’ ini kami lakukan 2 kali yaitu pagi hari untuk mahasiswa dan umum, dimana pada sesi ini kami lebih menitikberatkan materi motivasi dan sore hari untuk para pengusaha tempe dan profesional di bidang itu dengan menitikberatkan pada materi teknis bagaimana Rustono berhasil membuat tempe di Jepang.

Rustono benar-benar telah membuat para peserta pagi begitu termotivasi. Bagaimana dari seorang ‘pembuka pintu’ sebuah hotel di Jogja kemudian menjadi pengusaha tempe sukses di Jepang. Jelas-jelas kita tahu bahwa ber’usaha’ (baca : bisnis) di Jepang tidaklah mudah. Apalagi bisnis makanan, dan makanan yang selama ini tidak ada di sana. Rustono telah melewati tantangan yang begitu sulit, yaitu pertama bagaimana membuat agar orang Jepang menyukai tempe dan kemudian membuat bagaimana agar tempe tersebut menjadi laku di sana. Tantangan tambahannya adalah, Rustono harus mengalahkan 4 musim agar selalu bisa memproduksi tempe-nya setiap saat!

Rustono telah menguasai benar filosofi Monozukuri, filosofi ‘membuat produk’ di Jepang. Produk yang berkualitas terbaik, murah dan dengan cepat bisa didisampaikan ke pelanggan. Pemahaman inilah yang ingin kita sampaikan kepada para peserta dialog, Rustono berhasil membuat produk yang selama ini kita anggap murah dan ‘murahan’, yang kita sepelekan dibanding berbagai makanan ‘elit’ lainnya, menjadi makanan yang premium. Makanan yang bernutrisi tinggi dan sangat menyehatkan.

Kami berharap suatu saat bisa mengubah mindset ‘mental tempe’ yang konotasinya negatif berubah menjadi jargon positif sehingga orang berani bilang, ‘saya bangga bermental tempe!’.

Penasaran dengan semua yang Rustono lakukan, saya coba tanyakan tentang mimpi-mimpinya.

Ketika saya tanya apa mimpi Rustono ketika kecil, dia jawab, “impian pertama saya waktu kecil, naik pesawat”.

Lalu dia melanjutkan lagi dengan, “Jika impian pertama (naik pesawat) dan impian keduabelas yaitu menu tempe di maskapai Internasional bertemu di atas ketinggian 13.000 meter, maka itu ada di video ini”. Kata Rustono sambil menunjukkan sebuah video yang dia ambil ketika naik sebuah maskapai internasional yang menghidangkan lauk tempe di dalam hidangan makanan mereka.

Bicara mimpi, Rustono ternyata mempunyai 30 buah mimpi yang memang sudah dibuat sedemikian rupa untuk bisa dicapai secara berkesinambungan. Saat ini kalau tidak salah sudah sampai mimpi yang ke-17, yaitu promosi tempe ke beberapa negara. Sebuah pemikiran yang menarik dalam membangun mimpi!

Kegiatan dialog yang kami siapkan dengan sangat sederhana ternyata memberikan gaung yang sangat luar biasa. Rekan-rekan panitia, para relawan yang sangat militan berhasil menjadikan konsep sederhana ini menjadi sebuah kegiatan dialog yang sangat produktif. Bahkan tidak sedikit media yang memberikan ruang untuk meliput dan menyajikan berita terkait aktifitas dengan Rustono ini. Untuk lebih lengkapnya silahkan simak di,

http://www.metrotvnews.com/read/newsvideo/2012/09/25/160258/Kenikmatan-Tempe-Terasa-hingga-Jepang-dan-Meksiko/6
http://finance.detik.com/read/2012/09/22/173548/2031138/68/ini-dia-si-raja-tempe-dari-jepang
http://www.tribunnews.com/2012/09/23/pengusaha-tempe-yang-sukses-di-jepang-awalnya-bellboy
http://www.medanbisnisdaily.com/news/read/2012/09/23/116674/ini_dia_rustono_raja_tempe_dari_jepang/

http://www.halojepang.com/sorotan/5617-tempe
http://uty.ac.id/2012/10/dialog-monozukuri-bersama-rustono-tempeh-dan-luisa-velez-di-fib-uty-2/
http://www.nonblok.com/event/item/31768-juragan-tempe-di-jepang-berbagi-pengalaman?tmpl=component&print=1
http://www.teknopreneur.com/dinamika/tempe-jelajahi-negeri-sakura
http://wartaekonomi.co.id/berita5389/rencana-ekspansi-king-of-tempeh.html
http://www.indopos.co.id/index.php/berita-indo-rewiew/27939-belajar-datangi-60-pengusaha-tempe-di-jawa.html

Kamis, Maret 15, 2012

Marcy (MOLLS)

Hari yang padat, pagi jam 06:00 sudah dijemput rekan pemasaran dari kantor cabang Tokyo menuju kota Saitama untuk melihat proses pembongkaran produk dari kontainer yang bertujuan untuk melihat pengaruh perbedaan iklim dan musim antara Indonesia dengan Jepang apakah menimbulkan masalah  pada produk yang dikirim.
Kemudian sore hari dilanjutkan dengan kegiatan berkunjung pada konsumen. Akhirnya sekitar jam 9 malam saya bisa kembali ke Ikebukuro untuk menuju hotel Prince Sunshine.
Keluar dari stasiun Ikebukuro pintu timur kondisi masih sangat padat. Seperti juga stasiun-stasiun terpadat di Jepang diantaranya Shinjuku, Shibuya, Tokyo dll, di Ikebukuro juga kita tidak bisa berjalan dengan santai. Semua orang berjalan dengan langkah-langkah yang cepat. Sepertinya mereka ingin segera tiba di tempat tujuan berikutnya.

Selasa, Juli 26, 2011

Kazu

Hari Minggu pekan lalu saya mengisi waktu luang dengan menyaksikan berbagai acara di Festival Budaya Jepang Gakuensai di Universitas Dharma Persada. Selain ada bazar dimana kita bisa membeli berbagai makanan Jepang, buku atau komik berbahasa Jepang ataupun bahkan pakaian dan banyak barang unik dijual disana, saya juga sempat menyaksikan berbagai pertunjukan yang dilakukan di panggung utama.

Lewat tengah hari, tanpa sengaja saya bertemu dengan Kazu. Dia adalah sahabat kami dalam komunitas Indonesia Jepang, dengan berbagai aktifitasnya yang sangat luar biasa. Dan hari itu, dia akan tampil di panggung untuk menyanyikan beberapa lagu.
Saya tahu, di tas besarnya tersimpan SLR kesayangannya dan pastinya dia tidak bisa menggunakan kamera itu selama tampil di panggung. Karena itu saya tawarkan untuk mengambil gambar selama dia pentas.
Kazu menyanyikan 5 buah lagu. Dan dari lagu pertama hingga keempat, selalu menimbulkan histeris para pengunjung. Mereka sedang mendengarkan lagu Jepang, namun selalu merasa seperti telah mengenal baik lagu itu. Bahkan sepertinya sangat familiar. Akhirnya mereka tersadar bahwa itu lagu populer di Indonesia yang dibuat versi Jepangnya oleh Kazu.
Terima Kasih Cinta-nya Afgan, kemudian Munajat Cinta The Rock, Biarlah-nya Nidji dan dilanjutkan dengan Aishiteru-nya Zivilia. Semuanya dinyanyikan dengan lirik Jepang. Terakhir, Kazu menutup penampilannya dengan lagu Jakarta Ondo. Lagu yang dia ciptakan bagi persahabatan masyarakat antar kedua negara.
Mengenal Kazu, tidak sempurna kalau tidak tahu apa sebenarnya mimpi dia. Karena itu disela-sela waktu istirahat Kazu sehabis pentas, orenoyume mencoba mencuri kesempatan untuk mengorek cerita tentang mimpi yang Kazu miliki.

Sabtu, April 23, 2011

Gita Darma Setia (Cajon)

Beberapa tahun lalu ketika sedang melihat pameran di kawasan Senayan, saya agak terheran dengan salah satu alat musik yang digunakan sebuah band yang sedang menghibur di salah satu booth. Bentuknya kotak, seperti box speaker dan seorang pemain duduk diatasnya sampai memukul-mukulkan telapak tangannya. Dari pukulan pemain itulah irama drum muncul mengiringi alunan musik yang kelompok itu mainkan.
Penasaran, saya coba tanya beberapa kawan yang suka bermain musik. Tapi ternyata tidak seorangpun tahu. Bahkan ke berbagai toko alat musikpun saya coba cari, tapi tetap jawaban tidak saya peroleh. Pencarian terus saya lakukan, benda apakah gerangan yang digunakan kelompok itu....
Akhirnya suatu saat saya ketahui, bahwa benda itu bernama drum box. Atau juga sering disebut cajon (baca : kahon).
Saat itu dari berbagai informasi yang saya kumpulkan, katanya pembuat cajon di Jakarta hanya 1 orang dan di Bandung ada 2 orang. Dan pada suatu akhir pekan saya meluncur ke Bandung untuk menemui salah seorang pembuatnya disana.
Sempat terkejut ketika menemui orang itu, seorang anak muda kalau tidak bisa dibilang sangat muda. Dengan usia kira-kira 18 tahun, anak muda itu memperkenalkan diri dengan nama Gita.

Selasa, Februari 08, 2011

Ariyo (Moch. Ariyo Faridh Zidni)

Kita sering mendengar kata mendongeng, namun jika anda coba kilas balik dalam keseharian yang anda lewati, kapan terakhir anda mendengar dongeng atau bahkan anda mendongeng? Bisa jadi banyak yang tidak mampu menjawab dengan segera. Karena memang tanpa kita sadari, mendongeng atau mendengar dongeng sudah mulai jarang kita dapatkan. Apalagi dengan perkembangan tehnologi saat ini yang sangat pesat, para orang tua disibukkan dengan aktifitas pekerjaan yang semakin sibuk dan anak-anak juga disibukkan dengan kepadatan sekolah serta banyak les yang mereka ikuti. Mereka
 juga telah memiliki dunia menarik lain yang akhirnya mengikis kebiasaan mendengar dongeng yaitu video game, internet, jalan-jalan ke mall dll.
Terkait mendongeng, di Sabtu pagi akhir Januari lalu saya hadir pada acara Story Telling Workshop di perpustakaan diknas di kawasan Senayan. Acara yang dipandu oleh sahabat saya Ariyo Faridh Zidni, atau sering kita panggil Ariyo itu sebenarnya sudah lama ingin saya ikuti tapi selalu waktunya tidak pernah tepat. Baru kali ini saya bisa tercerahkan, dan ternyata mendongeng itu sangat luar biasa.
Jika anda mengikuti acara Kick Andy di awal tahun ini, maka anda akan pernah melihat bagaimana Ariyo dengan intonasi suara yang bervariasi dan ekspresi gayanya yang tepat menyampaikan dongeng-dongengnya. Selain itu pula dia juga menjelaskan mengapa dalam mendongeng kita harus jujur.
Seperti biasa, orenoyume selalu penasaran dengan apa sebenarnya yang menjadi mimpi dari orang-orang. Karena pasti, setiap orang mempunyai mimpi besarnya dan bisa jadi itu akan menjadikan inspirasi bagi orang lain.

Kamis, Januari 06, 2011

Betty Suryaningsih

Berbicara tentang Aris Djunaedi yang tampil pada edisi beberapa waktu lalu tidaklah lengkap kalau kita tidak tahu siapa dibalik itu semua. Dan di hari pertama tahun 2011 ini, orenoyume membuat janji bertemu dengan seorang anak muda yang peduli dengan anak-anak di kawasan Rawamalang tersebut.
Kami bertemu sehabis magrib di sebuah pusat perbelanjaan di kawasan blok M. Dan dia adalah Betty Suryaningsih atau sering dipanggil Ibet. Ibet datang bersama 2 anak dari Rawamalang yaitu Pipit yang saat ini kelas 5 SD dan Neni kelas 1 SMP.
Hari itu Pipit dan Neni baru saja menimba pengalaman dengan membantu Ibet bekerja di kantornya. Dan selain untuk memberikan pengalaman berharga untuk anak-anak tersebut, menurut Ibet dia ingin menunjukkan pada kawan-kawan di kantor bahwa adik-adik dari Rawamalang adalah anak-anak yang mandiri dan mereka sudah bisa menjalankan banyak tugas yang selama ini dilakukan oleh orang dewasa. Mereka layak kita dukung untuk terus berkembang agar bisa menemukan potensi diri mereka yang terbaik.

Minggu, Desember 26, 2010

Riyadh Ramadhan

Perkenalkan nama saya Riyadh Ramadhan, saya kelas tiga SMA AL HIKMAH di Surabaya. Saat ini saya mempunyai bisnis Cafe gorengan pertama di Indonesia yang saya namakan Go CRUNZ. Bertempat di Royal Plaza Surabaya lantai tiga blok N2 nomor 48. Bisnis ini sudah saya jalankan sejak dua tahun yang lalu. Dan omset saat ini mencapai lebih dari 1 juta rupiah per hari. Dan jika weekend atau hari libur nasional bisa menembus 3 juta rupiah per hari. Bisnis Go CRUNZ ini baru saya waralabakan kemitraan sejak pertengahan Oktober 2010, dan sudah ada yang bergabung menjadi mitra saya sebanyak 5 orang serta yang inden lebih dari 10 orang. Terima kasih atas penghargaan ISMBEA 2010 yang diberikan kepada saya. Salam Go CRUNZ - Tambah Siip ae Rek!
Itu kalimat yang disampaikan seorang anak  muda yang saya temui di acara Gala Dinner ISMBEA (The Indonesia Small & Medium Business Entrepreneur Award) 2010, sebuah penghargaan yang diberikan bagi para penggiat kewirausahaan di Indonesia, yang digelar oleh Majalah Wirausaha dan Keuangan. Anak muda ini merupakan salah satu dari para enterpreneur muda yang mendapatkan penghargaan tersebut.

Senin, Desember 06, 2010

Aris Djunaedi

Pekan ini saya membuat janji bertemu dengan seorang sahabat di Taman Ismail Marzuki dalam acara Festival Budaya Anak 2010. Dia adalah Betty Suryaningsih atau sering dipanggil Ibet, seorang relawan dalam pengembangan pendidikan anak-anak yang beberapa tahun terakhir mendedikasikan waktu luangnya untuk membangun komunitas IPPA (Ikatan Peduli Pendidikan Anak) Rawamalang dan mengisi aktifitas bersama anak-anak di Rawamalang, Cilincing Jakarta Utara.
Di sela-sela pertemuan dengan sahabat tersebut saya bisa ngobrol panjang lebar dengan seorang anak muda yang sedang berusaha mengejar mimpinya. Dia adalah Aris Djunaedi, yang menceritakan berbagai aktifitasnya dalam blog ‘CATATAN SANG PEMIMPI...., mencatat sebuah impian masa depan’. Sebuah blog yang membuat saya penasaran.
Aris Djunaedi dengan perjuangan yang cukup berat akhirnya berhasil menyelesaikan SMK-nya dalam jurusan tehnologi informatika. Prestasinya cukup bagus baik dalam kegiatan akademik maupun ekstra kurikuler. Beberapa kali mengikuti berbagai perlombaan di tingkat kotamadya.
Jika banyak anak muda bisa menggapai prestasi karena didukung oleh lingkungan yang baik dan mapan, maka Aris Djunaedi atau biasa dipanggil Djuned dibesarkan di lingkungan yang sangat tidak cocok sebagai tempat untuk berkembang dan tumbuhnya seorang anak, dia tinggal di kawasan yang terkenal sebagai lokalisasi Rawamalang.

Selasa, November 30, 2010

WURYANANO

Mimpi adalah harapan dan doa. Dalam perjalanan memahami bagaimana agar mimpi bisa menjadi kenyataan, saya menemukan sebuah buku yang sangat luar biasa.
Setelah sekian lama berproses dalam meyakini mimpi dan kemudian banyak kejadian-kejadian yang muncul terkait dengan realisasi mimpi yang pernah saya bayangkan, sering saya merasa seolah-olah mengerti tentang mengapa dan bagaimana itu bisa terjadi. Namun tetap saja ketika saya hendak menjabarkan dalam kata-kata semuanya menjadi kelu dan tidak ada satupun penjelasan yang bisa saya keluarkan.
Bahkan setelah dalam 5 tahun terakhir bersama kawan-kawan membentuk forum diskusi untuk memahami dan membangun potensi diri, tetap saja jawaban tersebut tidak bisa saya keluarkan. Dan buku yang luar biasa tersebut adalah berjudul, “Mengapa Doa Saya Selalu Dikabulkan”.
Pada Bab I buku itu dimulai dengan kalimat, “Sebenarnya sudah sangat jelas dan tegas bahwa semua orang di muka bumi ini mempunyai keharusan dan kewajiban untuk sukses. Semua orang harus dan wajib sukses!”. Kalimat yang akan membuat kita menjadi penasaran, kita memang ingin sukses tapi bagaimana caranya dan seberapa pentingkah peranan doa....

Senin, November 22, 2010

Arif Budhi Suyanto (SPISy, produk)

Perusahaan tempat saya bekerja yang saat ini memperkerjakan tidak kurang dari 300 karyawan (kedepan akan terus bertambah),  membuat departemen HR selalu terlihat kerepotan dalam menangani dan mengontrol hak serta kewajiban karyawan tersebut. Jumlah karyawan yang belum terlalu banyak dibanding perusahaan yang mempekerjakan ribuan karyawan, namun sudah mulai sulit jika ditangani dengan cara yang sederhana dan manual. 
Beberapa tahun terakhir, bersama para penanggung jawab HR kami mencoba mencari solusi. Salah satunya dengan menemukan aplikasi yang kiranya cocok untuk memudahkan pekerjaan mereka. Dalam pencarian tersebut, saya menemukan sebuah aplikasi yang bisa digunakan untuk mengelola karyawan dan ternyata buatan Indonesia. Cukup lama saya mencoba mencari tahu dari beberapa software developer tentang produk ini. Dan tanpa saya sangka, ternyata produk ini adalah produk yang dimiliki oleh para senior saya ketika kuliah, dan bahkan dibangun oleh teman-teman yang sangat saya kenal baik pada masa awal-awal kuliah.
Untuk lebih mengetahui bagaimana harapan para pembuat software ini dan saya yakin mereka mempunyai mimpi-mimpi ke depan terkait dengan produk ini, akhir pekan lalu di sebuah coffe shop hotel di kawasan Bekasi saya sempat ngobrol dengan Arif Budhi Suyanto, senior saya yang juga salah seorangn pemilik dari perusahaan yang membuat dan memasarkan produk ini.

Senin, November 15, 2010

DWI (relawan 1001buku)

Akhir pekan kemarin saya membuat janji dengan Indra dan Dwi, nama yang sudah saya kenal cukup lama. Saya masih ingat ketika dulu Dwi dkk akan berangkat ke Aceh untuk menjadi relawan pasca bencana tsunami 2004, saya mencoba mengumpulkan buku-buku bacaan dan alat tulis gambar. Yang paling tidak saya lupa waktu itu adalah sempat ‘memborong’ boneka tangan (boneka yang bisa kita mainkan dengan memasukkan tangan kita ke dalamnya) di sebuah supermarket untuk di bawa dan digunakan di Aceh.
Mereka adalah komunitas 1001 buku. Banyak nama di komunitas ini dan masing-masing mempunyai kontribusi sesuai tugasnya. Pada masa-masa itu saya mengikuti milis mereka dan dengan keterbatasan waktu kadangkala saya bergabung dengan aktifitas mereka, disitu saya melihat semangat juang yang sangat luar biasa. Indra dan Dwi ini adalah sebagian dari yang ikut bersama para pendiri mengembangkan 1001 buku hingga menjadi seperti yang ada saat ini.
Aktifitas mereka yang utama adalah mengumpulkan buku-buku bacaan (bukan buku pelajaran) dari para penyumbang kemudian menyortir dan mendistribusikan pada banyak taman bacaan yang banyak tumbuh di masyarakat di seluruh Indonesia.
Lama tidak bertemu membuat kami saling bercerita panjang lebar. Baik tentang banyak hal yang terjadi saat ini maupun tentang aktifitas kami masing-masing di kegiatan yang berhubungan dengan komunitas pendidikan. Indra dan Dwi, dan saat itu juga bergabung Nana, seorang relawan 1001 buku dari Jogja yang kebetulan sedang ada perlu di Jakarta dan malam itu pula harus kembali ke Jogja, kami berdiskusi banyak hal.

Senin, November 08, 2010

Nadya Misakiputri

Hari Rabu malam pekan lalu ketika akan mulai berkemas pulang saya menerima email dari alamat Athaya, putri saya yang sekarang kelas 2 SMP. Namun setelah saya perhatikan judul pesannya adalah “tugas ade”. Wah ini berarti bukan dari Athaya tapi dari adiknya, Nadya.

Nadya sekarang kelas 2 SD, kegiatan sehari-hari setelah pulang sekolah tentu saja bermain dan kadang mengikuti beberapa les. Yaitu enopi (matematika), renang dan robotic. Kok seperti anak laki? Ya, hobinya membaca dan matematika. Kesukaan ini sudah dia lakukan sejak dari TK. Selain itu sekarang hampir setiap hari dia sms minta ijin mau memakai komputer, yang hampir selalu pula saya jawab, “t-i-d-a-k!”. Tentu saja kecuali ketika hari libur. Saya tahu, kalau dia sudah asyik di depan komputer, 2 jampun tidak akan terasa. Bisa macam-macam yang dia lakukan, dari browsing internet, menggambar, menulis di ms-word atau bahkan membuat sesuatu di publisher (saya malah tidak tahu bagaimana menggunakan publisher!).

Senin, November 01, 2010

Yudhistira (gelang merah)

Beberapa tahun lalu, saya masih ingat ketika awal-awal bertemu dengan anak muda ini, dia sedang mempersiapkan internet shop yang menjual perlengkapan bayi baik pakaian dengan segala pernak-perniknya. Pada waktu itu dia baru menikah dan hampir punya bayi, dan dia beralasan, ‘daripada hanya mencari dan menyediakan perlengkapan bayi untuk sendiri, sekalian menyediakan untuk para sahabat yang membutuhkan’.

Namun internet shop  itupun segera berkembang karena tidak berapa lama kemudian ketika kami sempat berkomunikasi lagi dia mengundang saya untuk mampir ke ‘real shop’ yang telah dia buka di daerah Senopati (Jakarta, red).
Dan kali ini setelah sekian lama tidak bertemu saya bisa membuat janji dengan dia, ternyata usahanyapun telah berkembang dengan membuka cabang satu lagi di daerah Pondok Indah. Luar biasa anak muda ini, ulet dan fokus dengan apa yang dia lakukan. Toko yang diberi nama cukup unik ini yaitu NENEN BABYSHOP, bisa anda temukan juga di www.nenenshop.com.


Senin, Oktober 25, 2010

Sofian

Hari Minggu pekan lalu, pagi-pagi bersama keluarga kami meluncur ke arah puncak menuju taman safari. Tujuannya hanya satu, air terjun. Ya, dari hasil ngobrol-ngobrol ternyata anak-anak ingin bermain di air terjun. Dan kebetulan saya ingat ada air terjun yang mudah untuk dijangkau karena dari tempat parkir tidak begitu jauh.
Sampai di depan loket ternyata belum buka sehingga kami harus menunggu. Namun karena itu pula, kami menjadi yang pertama masuk ke taman safari. Untuk menuju air terjun kita tetap harus melalui rute kebun binatangnya, sehingga ongkos masuk yang tidak terlalu murah itu tetap setara dengan fasilitas yang kita peroleh. Setelah melalui jalur kebun binatang yang masih belum ada pengunjung kecuali para pekerja yang sedang bersih-bersih, kami melewati area parkir dan kemudian terus melewati area berbagai wahana hingga kami ikuti sampai di ujung jalur kendaraan. Dan tidak jauh dari situlah bisa kita temukan air terjun.
Turun dari kendaraan kami disambut sapaan ramah dari seorang petugas keamanan. Sofian, saya baca nama itu tertera di dada sebelah kanan. Dan pak Sofian ini menemani kami mendaki menuju air terjun, karena menurut beliau biasanya kalau masih sepi di sekitar air terjun masih sering berkumpul banyak kera. Dikhawatirkan nanti kami diganggu.
Sepanjang perjalanan kami banyak ngobrol, dan kemudian di perjalanan kembali ke parkiran kami berdua ngobrol banyak tentang mimpi. Atau kalau tidak bisa dikatakan, saya banyak berbicara tentang mimpi kepada pak Sofian....

Senin, Oktober 18, 2010

Oku Nobuyuki (3)

Melanjutkan apa yang sudah disampaikan Oku Nobuyuki (Oku-san) berturut-turut 2 minggu lalu, minggu ini Oku-san membahas hal-hal menarik terkait SMK berbasis bahasa Jepang yang patut kita dukung untuk segera direalisasikan. Oku-san jelaskan pula apa alasan dipilihnya beberapa jurusan yang akan diadakan di SMK tersebut. Dan ternyata sangat masuk akal serta penuh dengan perhitungan.
Selain itu ada pula tentang negara perdamaian dalam hati. Nah, apa pula ini?
Mari kita simak lanjutan paparan tentang orenoyume (mimpi saya) oleh Oku-san yang dilaksanakan pada tanggal 2 Okt 2010.

Senin, Oktober 11, 2010

Oku Nobuyuki (2)

Pekan ini kita bertemu kembali dengan Oku Nobuyuki (Oku-san), melanjutkan paparan tentang orenoyume (mimpi saya) pada sebuah diskusi yang dilaksanakan pada tanggal 2 Okt 2010. Minggu lalu Oku-san sudah menceritakan tentang mimpi dan bagaimana mimpi bisa kita wujudkan, tentang latar belakang hingga bisa berada di Indonesia, dan tentang berbagai hal. Bahkan pula Oku-san membahas pendapatnya mengenai negeri kita dan Pancasilanya.
Kali ini kita bisa lanjutkan pemikiran-pemikiran yang luar biasa dari Oku-san, semoga bisa menjadi inspirasi bagi kita semua.

Rabu, Oktober 06, 2010

Oku Nobuyuki (1)

Akhir pekan lalu tanggal 2 Okt 2010, saya hadir dalam sebuah diskusi rutin yang diselenggarakan oleh KAJI yaitu Komunitas Alumni Jepang di Indonesia (http://www.kaji.or.id/) , dimana pada kesempatan ini kami bisa mendengarkan paparan mimpi dari seorang Oku Nobuyuki (Oku-san). Oku-san dilahirkan di Jepang, kuliah di sana dan kemudian dalam kesempatan terkait aktifitasnya di bidang musik, Oku-san bisa datang ke Indonesia.
Dari ‘aktifitas yang tidak disengaja’ itu Oku-san menemukan sesuatu yang selama ini dicari-carinya, dan kemudian melanjutkan banyak aktifitas kehidupannya di Indonesia. Selain nama Jepang, Oku-san juga mempunyai nama Jawa. Sudah 20 tahun lebih tinggal di Indonesia, saat ini Oku-san bergerak di bidang konsultan managemen industri. Namun selain itu ternyata Oku-san mempunyai mimpi besar yang sangat luar biasa terutama bagi bangsa ini, bangsa Indonesia.
Paparan Oku-san kali ini berjudul ORENOYUME, sama dengan tema blog yang sedang anda baca. Tidak seperti biasanya format orenoyume dalam bentuk wawancara, untuk kali ini saya tampilkan apa adanya seperti paparan Oku-san dalam forum tersebut agar kita bisa merasakan ‘roh’ dari apa yang Oku-san ingin sampaikan. Mari kita simak paparan Oku Nobuyuki.

Senin, September 27, 2010

Endah dan Laras

Pada tanggal 25 September 2010 beberapa hari lalu, setelah mengikuti seminar yang berlangsung seharian, saya bergabung bersama kawan-kawan komunitas KAJI yang sedang melakukan kegiatan sosial dengan mengajak anak-anak dari SDN Suka Mekar 2 untuk meyaksikan film anak-anak Doraemon di Megaplex Grand Indonesia atas dukungan dari kedutaan besar Jepang dan sejenak bermain-main di monas.
Berhubung kendaraan bis yang disediakan tidak bisa mengangkut peserta yang melebihi kuota maka saya berkesempatan pulang bersama 2 orang relawan dan 2 orang anak peserta. Kedua anak itu adalah Endah Suci Kurniasih dan Larastika, kelas 4 dan 6 SDN Suka Mekar 2 Bekasi.
Sepanjang perjalanan itu kami mengobrol banyak hal, dan tidak lupa pula terkait mimpi-mimpi mereka di masa depan.

Senin, September 20, 2010

Yoyok Carry Riyanto

Bekerja menjadi seorang karyawan di bank selama 16 tahun Yoyok CR merasa sangat enjoy. Apalagi didukung dengan pendidikan formal yang cukup, dan tentu saja dukungan dari keluarga saat itu. Namun dari khotbah seorang kiai, bahwa amal ibadah tidak hanya sekedar derma, zakat dan sodakoh namun juga ilmu – Yoyok merasa surprise dan terinspirasi untuk memberikan kontribusi pada dunia ini dengan ilmu yang dimilikinya.
Bergabung dengan Elfas Big Band selama 22 tahun telah memberikan bekal yang sangat luar biasa pada Yoyok CR untuk memulai pengabdiannya pada dunia musik. ‘Life begins at 40’ begitu yang sering kita dengar, dan itu pula yang Yoyok CR lakukan. Meninggalkan kehidupan karir di bank yang sudah mapan untuk sebuah mimpi besar, Yoyok memulai kehidupan karirnya dari nol kembali. Dengan bekal ilmu baik mengenai sistem, managemen, keuangan atau juga tentang musiknya itu sendiri yang telah dimilikinya, Yoyok CR mengawali langkah sebagai seorang enterpreneur dengan membuka sekolah musik.
Pada tahun yang ke-10 kiprahnya di dunia pendidikan musik ini sudah banyak prestasi yang ditorehkan oleh para anak didiknya. Komunitas musikal di bawah naungan sekolah tersebut, berhasil meraih berbagai prestasi baik di tingkat nasional atau bahkan tidak sedikit di tingkat internasional. World Olympic Choir 2002 di Korea Selatan, kemudian 2004 di Jerman, 2006 di China, 2008 di Jakarta. Atau juga di Busan Choral Festival 2008 dengan meraih medali perak untuk kategori Pop, Jazz, Folklore dan Children Choir. Dan masih banyak prestasi yang lain.