Kamis, Maret 15, 2012

Marcy (MOLLS)

Hari yang padat, pagi jam 06:00 sudah dijemput rekan pemasaran dari kantor cabang Tokyo menuju kota Saitama untuk melihat proses pembongkaran produk dari kontainer yang bertujuan untuk melihat pengaruh perbedaan iklim dan musim antara Indonesia dengan Jepang apakah menimbulkan masalah  pada produk yang dikirim.
Kemudian sore hari dilanjutkan dengan kegiatan berkunjung pada konsumen. Akhirnya sekitar jam 9 malam saya bisa kembali ke Ikebukuro untuk menuju hotel Prince Sunshine.
Keluar dari stasiun Ikebukuro pintu timur kondisi masih sangat padat. Seperti juga stasiun-stasiun terpadat di Jepang diantaranya Shinjuku, Shibuya, Tokyo dll, di Ikebukuro juga kita tidak bisa berjalan dengan santai. Semua orang berjalan dengan langkah-langkah yang cepat. Sepertinya mereka ingin segera tiba di tempat tujuan berikutnya.
Jika kita berjalan dengan pelan maka akan membuat gerakan banyak manusia itu menjadi tersendat, dan kadang bahkan kita akan bisa ditabrak mereka!
Pintu timur Ikebukuro, bersama ratusan orang menunggu lampu boleh menyeberang menyala hijau. Beruntung saat itu cuaca sedang bersahabat, meskipun suhu masih dingin (sekitar 8 derajat) namun tidak menyurutkan banyak orang untuk beraktifitas di luar rumah.
Bulan terlihat mengintip disela-sela gedung yang menjulang langit, lampu-lampupun semakin memeriahkan kehidupan kota yang tidak pernah beristirahat itu.
Akhirnya lampu berganti hijau, diiringi suara tanda boleh menyeberang kami serentak berjalan menuju arah masing-masing. Mendekat ke dekat barisan pusat perbelanjaan, suasana makin ramai. Banyak penduduk hilir mudik, baik yang sedang bergerak untuk menuju ke tempat tinggal masing-masing setelah seharian bekerja untuk merangkai mimpi-mimpi besar mereka, atau juga mereka yang sedang rehat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan atau pula mereka yang sengaja keluar rumah untuk sekedar berbelanja dan menikmati malam yang cerah itu.
Semakin mendekat ke pusat keramaian, terlihat seorang gadis sedang bernyanyi dengan iringan organ yang dia mainkan sendiri. Tidak perlu tempat khusus, dia cukup mencari tempat yang agak lapang dan tidak mengganggu hilir mudik para pejalan kaki. Dan tidak berapa jauh di depan terletak sebuah kotak yang berisi selebaran tentang identitas gadis itu. Ya, dia sedang berusaha keras untuk bisa dikenal sebagai seorang penyanyi. Dia berharap agar masyarakat mau meluangkan sejenak mendengar lagu-lagunya atau jika perlu membeli CD yang memang sudah dirilisnya.
Namun sayang, semua itu tidak cukup untuk membuat saya terhenti dan menikmati lagu yang dia nyanyikan. Tapi nanti dulu, sayup-sayup terdengar seorang pria bernyanyi dengan suara cukup lantang tapi tetap nyaman untuk dinikmati. Apalagi juga diiringi dengan musik yang terdengar lengkap komposisinya.
Tidak jauh dari gadis itu, bernyanyi seorang pria berambut panjang  dengan gitar di tangannya. Pertama yang sangat menarik adalah permainan gitarnya yang begitu padat. Baik ketika dia harus menampilkan melodi untuk bersahutan dengan lagu yang dia nyanyikan, atau ketika dia harus mengiringi cerita dalam lagu yang harus dia bawakan. Semua itu menyatu dengan suaranya yang memang sangat enak di dengar.
Tidak ada kecanggungan dalam penampilannya. Dia sepertinya sudah siap untuk bisa membuat banyak orang menikmati musiknya. Dia adalah Noguchi, dan memperkenalkan diri dengan nama Marcy. Seorang singer song writer yang berasal dari provinsi Chiba ini, berawal dari keinginan untuk mengajak banyak orang di sekelilingnya untuk merasakan keindahan sebuah lagu dengan cara yang sangat sederhana, sejak tahun 2009 memulai membawakan lagu dengan gaya balada.
Selain gitar yang dia petik, dia hanya ditemani sebuah cajon yang dimainkan seorang rekannya. Dan itupun sudah sangat terasa sekali cukup untuk menyempurnakan lagu-lagu yang dia bawakan. Terasa sekali Noguchi berusaha tampil sempurna. Suara tone tinggi yang lembut dengan permainan gitar yang dia bawakan  hingga batas tertinggi warna suara akustik gitar bisa mengisi suasana dinginnya malam di Ikebukuro saat itu menjadi hangat. Orang-orang berhenti untuk menikmati komposisi balada Noguchi. Semua menyimak dan mengangguk-anggukkan kepala sambil mencoba ikut berdendang.
Dan Noguchi atau Marcy juga menyampaikan mimpinya.
僕の夢は音楽、沢山の人に届けて。僕自身も音楽で生活することです。それが僕の夢です。
Mimpi saya adalah musik, menyampaikannya pada banyak orang. Saya sendiripun hidup di musik. Itulah mimpi saya!
Noguchi atau Marcy muncul dengan nama MOLLS. Dia pernah memperoleh penghargaan grandprix dari live contest “HOTLINE 2011” yang diikuti oleh 2600 lebih band dari seluruh Jepang.
Dan dia menampilkan suaranya yang indah itu di The Garden Hall, Yebisu Tokyo.
Salah satu keinginannya juga adalah bisa menyanyikan lagu-lagunya di Indonesia. Dan tentunya itu bukanlah suatu mimpi yang mustahil dilakukan oleh seorang Noguchi.
Anda bisa mengenal lebih jauh tentang Noguchi di http://molls.jimdo.com
Atau juga anda bisa simak salah satu lagu dia di http://www.youtube.com/watch?v=2JwTPyF8kc8

1 komentar:

Latif sektyo pambudi mengatakan...

terimakasih atas motivasi/ilmu yang anda berikan..... hari ini

Posting Komentar