Senin, November 15, 2010

DWI (relawan 1001buku)

Akhir pekan kemarin saya membuat janji dengan Indra dan Dwi, nama yang sudah saya kenal cukup lama. Saya masih ingat ketika dulu Dwi dkk akan berangkat ke Aceh untuk menjadi relawan pasca bencana tsunami 2004, saya mencoba mengumpulkan buku-buku bacaan dan alat tulis gambar. Yang paling tidak saya lupa waktu itu adalah sempat ‘memborong’ boneka tangan (boneka yang bisa kita mainkan dengan memasukkan tangan kita ke dalamnya) di sebuah supermarket untuk di bawa dan digunakan di Aceh.
Mereka adalah komunitas 1001 buku. Banyak nama di komunitas ini dan masing-masing mempunyai kontribusi sesuai tugasnya. Pada masa-masa itu saya mengikuti milis mereka dan dengan keterbatasan waktu kadangkala saya bergabung dengan aktifitas mereka, disitu saya melihat semangat juang yang sangat luar biasa. Indra dan Dwi ini adalah sebagian dari yang ikut bersama para pendiri mengembangkan 1001 buku hingga menjadi seperti yang ada saat ini.
Aktifitas mereka yang utama adalah mengumpulkan buku-buku bacaan (bukan buku pelajaran) dari para penyumbang kemudian menyortir dan mendistribusikan pada banyak taman bacaan yang banyak tumbuh di masyarakat di seluruh Indonesia.
Lama tidak bertemu membuat kami saling bercerita panjang lebar. Baik tentang banyak hal yang terjadi saat ini maupun tentang aktifitas kami masing-masing di kegiatan yang berhubungan dengan komunitas pendidikan. Indra dan Dwi, dan saat itu juga bergabung Nana, seorang relawan 1001 buku dari Jogja yang kebetulan sedang ada perlu di Jakarta dan malam itu pula harus kembali ke Jogja, kami berdiskusi banyak hal.

Dwi baru saja kembali dari Merapi, 1001 buku sudah langsung membuat aktifitas sosial disana sejak musibah Merapi terjadi beberapa minggu lalu. Dan minggu ini rencana beberapa relawan dari Jakarta akan berangkat kembali kesana sembari membawa bantuan.
Kepada Dwi saya memberikan beberapa pertanyaan tentang mimpi-mimpi mereka, terkait dengan 1001 buku.

Saya yakin pada waktu mbak bersama kawan-kawan memulai kegiatan ini, tidak terpikirkan akan sejauh ini. Jadi apa yang mbak pikirkan waktu itu?
Pada waktu awal sih tidak terlalu muluk. Sebenarnya waktu awal bergabung itu inget banget. Datang, hanya ya sudah, OK ini sesuai. Ini untuk anak-anak. Bisa akses ke buku yang mereka memang sulit dapet. Karena, merasakanlah buku itu mahal. Apalagi anak-anak, gitu kan. OK, aku bantu deh. Bantu apa, apa yang bisa aku bantu. Ooo, sortir. Jadi awal aku gabung juga, jadi tukang sortir. ‘Ya sudah Dwi kamu jadi PJ (Penanggung Jawab, red) distribusi sortir’. Wah seneng banget deh. Ngga papa sortir. Sampai sortir 2500 buku awal-awalnya. Kan dari pembukaan awal dapat buku dari mana-mana tuh, sampai 2 kali sortir. Tentu sama temen-temen sih...
Nggak kepikiran, nggak muluk-muluk. Bahkan temen-temen yang lain sampai bilang gini, ah ini nggak akan tahan lama katanya. Paling ini juga gerakan yang akan bertahan setahun dua tahun...
Orang jadi pemulung buku apa sih? Itu kan sama dengan para pemulung. Ngumpulin buku bekas, dibagiin. Trus kan ini juga hanya beberapa orang. Taman bacaannya saja waktu itu tahun 2002 hanya ada 6. Di Jakarta, di Bogor, di Bandung.

Yang Serang belum ya? (Saya tahu waktu itu di Serang ada taman bacaan yang dikelola oleh mas Gola Gong, seorang penulis yang pasti kalau anak-anak tahun 80~90an mengenalnya...)
Serang sudah. Serang saja waktu itu mas Gong itu kan masih kecil. Suasananya masih, bata 2 tingkat gitu kan? Belum sampai ada bangunannya. Terus kita kesana. Di Bogor juga gitu kan? Baru ada saung kecil di depan gitu kan. Depan SD Bantarjati. Bulungan juga..., cuman mereka semua punya komitmen bisa buka kapan aja. Kayak di Bulungan itu buka 24 jam. Ya itu, kesamaannya yaitu mereka ingin membuat anak-anak mudah terakses gitu. Jadi kesannya perpustakaan itu, taman bacaan itu bukan taman bacaan yang orang takut untuk datang tapi yang anak-anakpun senang datang ke perpustakaan.
Melihat dari situ saja, Dwi merasa wah ini OK. Ini sebenarnya tidak hanya bisa sebentar, dari situ mulai kenapa tidak..., dulu inspirasinya sebenarnya dari Jepang. Jadi gini, kita tahu di Jepang itu dimanapun juga orang membaca buku. Kenapa di Indonesia tidak seperti itu. Maksudnya di kita misal nunggu apapun juga bisa baca buku kan. Anak-anak kecilpu baca buku. Bahkan inginnya sih semua tempat itu nanti ada perpustakaan, library corner gitu. Di RT, RW, pokoknya di seluruh Indonesia tuh orang mudah terakses buku. Dan buku tidak terlalu mahal untuk dijangkau anak-anak. Nggak muluk sih (mimpi) sebenarnya...

Kalau begitu, sekarang sudah banyak dong taman bacaan?
Sudah banyak, sudah 280-an. Padahal waktu itu Cuma 6. Dan seluruh Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Sudah di Papua, di Batam juga. Cuman memang kesulitan kita sekarang adalah me-maintenance koordinasinya. Sebenarnya tidak masalah, karena relawan 1001 buku sekarang kerja semua jadi itu dikerjakan ketika weekend. Tapi kadang-kadang untuk konsistensi memantaunya itu lho, agak kurang. Tapi Alhamdulillah tahun ini berjalan lagi hal-hal itu. Karena kita mikirnya gini, taman bacaan mandiri itu juga aset bangsa, jadi kita tidak hanya memberikan buku saja tapi kita ingin mereka berkembang. Berkembang menjadi apa yang mereka mau...

Untuk saat ini, mimpi kedepan 1001 buku ingin menjadi seperti apa?
Kemarin baru saja dibahas, masih hangat! Kita baru menyatukan kembali visi. Soalnya kan kalau komunitas relawan kadang-kadang iya kadang-kadang..., jadi kita itu ingin ke depannya ini lebih cair tapi cair yang solid. Dalam artian begini, kita bisa memberikan satu warisan kepada generasi setelah kita, kita meninggalkan 1001buku ini, namun 1001buku tetap ada. Bukan hanya angkatan kami saja, saya sudah 8 tahun nih di 1001buku, ada waktunya estafet, dan estafet itu berjalan dengan mulus.
Artinya nanti siapapun yang ngurus bisa berjalan dengan seperti itu terus, dan visinya tetap dipegang. Bahwa visi kita adalah, membuat mimpi anak-anak terwujud dan mudah terakses ke taman bacaan. Walaupun pengembangannya akan gimana gitu, dengan ide masing-masing tapi kita tuh estafetnya akan mudah. Semua itu ingin yang pewaris-pewaris kita itu punya pikiran yang sama bahwa anak-anak itu adalah aset kita untuk generasi yang akan datang. Jadi mencerdaskan anak-anak itu adalah yang awal dari membangun bangsa yang cerdas. Jadi itu yang kita tanamkan ke mimpi kita, jadi mimpi kita itu - semua relawan itu mempunyai mimpi yang sama, temen-temen mempunyai mimpi yang sama. Jadi tidak hanya hura-hura saja, kita senang mengerjakan itu semua tapi ada added valuenya.
Kita juga ingin semua generasi, relawan kita kan dari dulu keluar masuk. Tidak pandang bulu, sarjana, SMA, SMP, SD, punya pekerjaan atau tidak punya pekerjaan. Agama apapun juga boleh. Jadi nah, yang penting visinya sama. Bahwa, punya mimpi yang sama dengan kita, agar anak-anak menjadi cerdas!
Dan kita ingin punya tempat, punya tempat yang tetap. Seperti sekarang yang sudah terwujud kita punya sample library. Tahun ini sudah terwujud itu. Walaupun belum gede masih kecil, dan kenapa sample library, sampel perpustakaan. Ketika orang bertanya nih, dari mana-mana dari daerah atau dari Jakarta, “eh, perpustakaan yang bagus tuh gimana sih?”. Ini nih, di 1001 buku ada, tidak usah muluk-muluk, bahwa perpustakaan itu harus kayak public library di luar negeri, tapi kita yang bisa dengan aset kita aja dulu yang ada di sekitar kita, nah ini seperti yang dikembangkan oleh 1001 buku. Lokasinya di Manggarai, di menara air. Kita sekarang bikin dari barang-barang bekas, meja dan rak-raknya dari sumbangan dan kita cat ulang. Dan setelah itu mimpi yang akan datang adalah punya tempat yang tetap. Punya markas tetap, sehingga relawan dari manapun bisa datang. Bisa menginap disitu, jadi punya markas yang gede..., mimpi 1001 buku itu.
 
Ya, 1001 buku telah berkembang. Mereka telah membuktikan bahwa ‘metode pemulung’pun bisa digunakan untuk berperan dalam meningkatkan wawasan anak-anak di negeri ini. Dan mereka sudah membuktikan bahwa mereka bisa tetap ada, bahkan menjadi semakin kuat.
Berikutnya adalah bagaimana mereka bisa mewujudkan mimpi-mimpi mereka. Mempunyai sekretariat yang lebih mapan untuk mempermudah komunikasi jaringan para penggiat kegiatan pendidikan alternatif yang sedang berkembang di seluruh negeri.
Sementara kami berkumpul dan mengobrol, sempat beberapa relawan 1001 buku datang bergabung. Namun bersama Indra mereka segera pamit karena akan ada aktifitas berikutnya. Kesibukan mewarnai pertemuan tersebut. Seperti telah diulas di atas, bahwa mereka meluangkan waktu akhir pekan di sela-sela kewajiban mereka bekerja untuk mengelola dan menggerakkan komunitas ini.
1001 buku telah membuka mata kita, bahwa dengan ide yang sederhanapun bisa dibangun sebuah kegiatan yang memberikan manfaat sangat besar bagi masyarakat. Yang dibutuhkan adalah keteguhan dan komitmen bersama, untuk bersatu memberikan solusi perbaikan secara nyata.
Dan mereka menunggu kita, untuk menyumbangkan buku-buku cerita bekas yang kita miliki atau bersama menyisihkan sebagian waktu kita untuk berkarya....
Temukan mereka di http://www.1001buku.or.id/

0 komentar:

Posting Komentar