Sabtu, Agustus 15, 2015

Shinkansen Kebanggaan Jepang

Jepang dikenal sebagai negara yang maju dalam bidang ilmu pengetahuan. Hingga tahun 2014, ada 22 orang Jepang yang sudah menerima penghargaan Nobel. 19 orang diantaranya adalah penerima Nobel di bidang ilmu pengetahuan alam seperti fisika, kimia, kedokteran. Di Asia, Jepang secara mencolok berturut-turut menghasilkan penerima Nobel.


shinkansen (foto koleksi pribadi)
Salah satu contoh yang merupakan pusat dari teknologi Jepang adalah Shinkansen. Dan saya ingin sedikit bercerita mengenai Shinkansen ini.
Shinkansen merupakan kereta berkecepatan tinggi di Jepang. Pertama kali Shinkansen digunakan di Jepang adalah pada tahun 1964, yakni Shinkansen Tokaido yang menghubungkan antara Tokyo dengan Osaka. Selain menjadi kereta berkecepatan tinggi di Jepang, Shinkansen juga menjadi kereta berkecepatan tinggi di dunia.

Tahun 1964, tahun diselenggarakannya Olimpiade Tokyo, menjadi tahun yang begitu penting bagi Jepang. Dan Olimpiade Tokyo tahun 1964 ini bukan hanya menjadi Olimpiade yang pertama diselenggarakan di  Jepang saja tetapi juga di Asia. Shinkansen pun dibuat disesuaikan dengan penyelenggaraan olimpiade Tokyo. Tidak hanya Shinkansen, namun juga jalan bebas hambatan, kereta bawah tanah, monorel dan lain-lain juga satu demi satu dibenahi dan dibangun untuk penyelenggaraan Olimpiade Tokyo. Tepat jika dikatakan bahwa Olimpiade Tokyo merupakan peristiwa yang melambangkan bangkitnya kembali Jepang setelah mengalami kehancuran akibat kalah perang. Jadi tahun 1964 bagi negara Jepang merupakan tonggak bersejarah dan merupakan tahun yang harus diperingati. Pada tahun 1964 itu juga saya dilahirkan.
Setelah Tokaido Shinkansen dibangun pada tahun 1964, teknologi ini terus berkembang hingga berbagai wilayah Jepang. Hingga sekarang pun pembangunan Shinkansen masih terus berlanjut.

Shinkansen merupakan kereta berkecepatan tinggi dengan kecepatan tertinggi melebihi 300 km/jam. Tidak hanya cepat, Shinkansen juga tepat waktu, nyaman dan sangat aman. Sudah 50 tahun sejak pertama kali shinkansen dibuat, tapi hingga saat ini belum pernah terjadi kecelakaan yang menimbulkan penumpang meninggal dunia.

Pada tahun 2013, rata-rata keterlambatan per rangkaian Tokaido Shinkansen adalah 30 detik. Ini sudah termasuk rata-rata dari adanya kejadian gangguan alam seperti badai salju dan angin topan. Kalau tidak ada gangguan alam seperti itu Shinkansen tidak akan terlambat. Berjalan dengan tepat waktu tanpa keterlambatan beberapa detik merupakan hal yang biasa.

Di Jepang, tidak hanya Shinkansen, moda transportasi seperti kereta biasa, bus dan lain-lain beroperasi dengan tepat waktu. Orang-orang pun akan mematuhi waktu dengan disiplin. Orang Jepang kalau pergi ke luar negeri sering merasa terkejut dengan perbedaan mengenai ketepatan waktu antara di Jepang dan di luar negeri.

Tidak hanya mengenai waktu. Sering katanya orang Amerika terkejut ketika naik Shinkansen karena gerbong Shinkansen berhenti tepat di posisi berhenti seperti tanda di peron. Artinya ketika Shinkansen berhenti, pintu terbuka tepat berada di tanda pintu yang ada di peron.

Di Jepang, terutama di Tokyo, di peron kereta ada tanda posisi pintu terbuka ketika kereta berhenti. Para penumpang lalu akan membuat barisan sesuai dengan tanda tersebut menunggu kereta. Meskipun telah berkeliling melihat di seluruh dunia, sangat jarang saya melihat peron kereta yang bertanda seperti itu. Di tempat saya pernah tinggal, Los Angeles dan Berlin, saya tidak pernah melihat hal tersebut. Di London dan New York pun tidak ada. Tetapi di Jepang ada tanda posisi kereta berhenti dan kereta akan berhenti tepat pada bagian tersebut.

Tidak lama setelah Shinkansen dibuat, pada tahun 1969 kaisar Jepang melakukan perjalanan menaiki Shinkansen. Ada buku yang menuliskan pernyataan masinis waktu itu. Menurut buku tersebut, waktu berhentinya kereta harus tidak lebih dari plus minus 5 detik dan posisi berhentinya kereta harus tidak lebih dari 1 cm. 5 detik dan hanya 1 cm! Jadi kalau posisi berhenti bergeser 1.1 cm saja sudah tidak bisa diterima. Sedemikian tingginya orang Jepang berharap pada ketepatan.

Pada tanggal 11 Maret 2011, di Jepang terjadi bencana gempa bumi besar dan tsunami. Ini menyebabkan banyak korban dan kerusakan yang sangat besar. Pada saat itu, Tohoku Shinkansen dengan 27 gerbong sedang berjalan cepat dengan penumpang di dalamnya. Ini juga merupakan Shinkansen yang berjalan dengan kecepatan tertinggi. Akibat dari gempa besar ini, menurut Anda seberapa banyak gerbong yang keluar jalur dan seberapa banyak korban yang luka dan meninggal?

Jawabannya: tidak ada. Shinkansen mengerem mendadak dan berhenti ketika terjadi gempa dahsyat itu, tetapi semuanya tetap aman. Tidak ada satu pun gerbong yang keluar jalur serta tidak seorangpun menderita luka. Semua penumpang di dalamnya selamat.

Menurut Anda, kapan Shinkansen mulai bereaksi untuk mengerem mendadak agar berhenti? Berapa detik setelah terjadi gempa? Atau berapa menit?

Sebenarnya, ketika ada goncangan besar maka paling lambat (tidak lebih) 70 detik rem darurat akan bekerja dan shinkansen mengalami perlambatan kecepatan.

Mengapa hal demikian bisa menjadi mungkin?

Di sekeliling Shinkansen dipasang alat seismometer (alat ukur gempa) dan dilengkapi dengan Sistem Alarm dan Deteksi Gempa Darurat (Urgent Earthquake Detection and Alarm System) yang dengan cepat bisa menangkap adanya goncangan dan memperlambat rangkaian kereta. Seismometer ini akan mendeteksi adanya gempa dan selama guncangan paling lambat dalam 70 detik secara otomatis akan memfungsikan rem darurat (triggered the emergency brake). Karena itu ketika terjadi guncangan yang besar, kecepatan Shinkansen akan menjadi lambat sehingga tidak sampai terjadi keluar jalur serta bisa berhenti dengan selamat.


Saya berharap, pada waktu anda berkesempatan wisata ke Jepang bisa menikmati perjalanan dengan Shinkansen. Tidak hanya cepat, praktis dan nyaman tetapi juga sangat aman.


disalin apa adanya dari buku "MENGENAL JEPANG", penulis Yusuke Shindo (wakil duta besar Jepang hingga Maret 2015)

Rabu, Oktober 24, 2012

Rustono Tempeh


Beberapa tahun terakhir saya sedang mencari tahu keberadaan seorang sahabat ketika SMA. Kami saat itu bisa dibilang selalu beraktifitas bersama, dari sekedar jalan-jalan hingga belajarpun kita jalani sama-sama. Namanya Rustono.

Saya sudah coba menanyakan ke beberapa teman SMA hingga iseng-iseng bertanya pada ‘mbah google’. Pada saat itu yang sering muncul adalah Rustono, warga Indonesia yang tinggal di Jepang dan mendapat julukan si raja tempe dari Indonesia. Dari situlah awal mula saya tahu Rustono Tempeh. Rustono yang berbeda dengan Rustono yang sedang saya cari.

Namun demikian tidak serta merta saya mengenal Rustono Tempeh, karena memang tidak ada alasan khusus yang menjadikan kami harus saling kenal.

Hingga pada suatu waktu, entah bagaimana awal ceritanya akhirnya kami berteman di facebook dan dari sinilah semua cerita bermula.

Beberapa kali kami berkomunikasi melalui message di facebook, membicarakan tentang pandangan kami masing-masing mengenai berbagai macam hal hingga akhirnya berlanjut kami berkomunikasi melalui skype. Kadang bisa kami ngobrol hingga 2 jam, bertukar pikiran tentang tempe, tentang masa depan UKM di Indonesia dan banyak lagi.

Suatu waktu Rustono menyampaikan rencananya akan pulang kampung ke Indonesia untuk beberapa minggu. Dan saat itupun kami sepakat membuat janji untuk bertemu sekedar berbagi cerita secara langsung.

Membayangkan ngobrol dengan Rustono yang akan menjadi begitu menarik, dengan pandangan-pandangan yang dia miliki, begitu sederhana tapi sangat inspiratif membuat saya tidak sabar untuk menunggu kesempatan itu tiba. Namun kemudian saya terpikirkan, betapa sayangnya saya sendirian memperoleh kesempatan yang luar biasa itu. Akhirnya saya bilang ke Rustono, “mas, tolong bisa tidak kosongkan 1 hari untuk ngobrol sama saya?”. “ Untuk apa?”. “Untuk saya ngobrol dengan mas Rus. Tapi, di belakang saya ada 400 orang yang akan ikut mendengarkan! Sayang sekali obrolan dengan mas Rus hanya saya sendiri yang mendengarkan. Saya akan ajak mahasiswa dan para pengusaha tempe untuk bersama kita ngobrol rame-rame!”

Dan itulah yang terjadi, akhirnya kami mengadakan dialog bersama Rustono tempeh pada tanggal 22 September 2012 yang kami selenggarakan di gedung kementerian koperasi dan UKM, Kuningan Jakarta.

Acara yang bertajuk ‘Dialog Monozukuri, Ide Sederhana Berdampak Luar Biasa!’ ini kami lakukan 2 kali yaitu pagi hari untuk mahasiswa dan umum, dimana pada sesi ini kami lebih menitikberatkan materi motivasi dan sore hari untuk para pengusaha tempe dan profesional di bidang itu dengan menitikberatkan pada materi teknis bagaimana Rustono berhasil membuat tempe di Jepang.

Rustono benar-benar telah membuat para peserta pagi begitu termotivasi. Bagaimana dari seorang ‘pembuka pintu’ sebuah hotel di Jogja kemudian menjadi pengusaha tempe sukses di Jepang. Jelas-jelas kita tahu bahwa ber’usaha’ (baca : bisnis) di Jepang tidaklah mudah. Apalagi bisnis makanan, dan makanan yang selama ini tidak ada di sana. Rustono telah melewati tantangan yang begitu sulit, yaitu pertama bagaimana membuat agar orang Jepang menyukai tempe dan kemudian membuat bagaimana agar tempe tersebut menjadi laku di sana. Tantangan tambahannya adalah, Rustono harus mengalahkan 4 musim agar selalu bisa memproduksi tempe-nya setiap saat!

Rustono telah menguasai benar filosofi Monozukuri, filosofi ‘membuat produk’ di Jepang. Produk yang berkualitas terbaik, murah dan dengan cepat bisa didisampaikan ke pelanggan. Pemahaman inilah yang ingin kita sampaikan kepada para peserta dialog, Rustono berhasil membuat produk yang selama ini kita anggap murah dan ‘murahan’, yang kita sepelekan dibanding berbagai makanan ‘elit’ lainnya, menjadi makanan yang premium. Makanan yang bernutrisi tinggi dan sangat menyehatkan.

Kami berharap suatu saat bisa mengubah mindset ‘mental tempe’ yang konotasinya negatif berubah menjadi jargon positif sehingga orang berani bilang, ‘saya bangga bermental tempe!’.

Penasaran dengan semua yang Rustono lakukan, saya coba tanyakan tentang mimpi-mimpinya.

Ketika saya tanya apa mimpi Rustono ketika kecil, dia jawab, “impian pertama saya waktu kecil, naik pesawat”.

Lalu dia melanjutkan lagi dengan, “Jika impian pertama (naik pesawat) dan impian keduabelas yaitu menu tempe di maskapai Internasional bertemu di atas ketinggian 13.000 meter, maka itu ada di video ini”. Kata Rustono sambil menunjukkan sebuah video yang dia ambil ketika naik sebuah maskapai internasional yang menghidangkan lauk tempe di dalam hidangan makanan mereka.

Bicara mimpi, Rustono ternyata mempunyai 30 buah mimpi yang memang sudah dibuat sedemikian rupa untuk bisa dicapai secara berkesinambungan. Saat ini kalau tidak salah sudah sampai mimpi yang ke-17, yaitu promosi tempe ke beberapa negara. Sebuah pemikiran yang menarik dalam membangun mimpi!

Kegiatan dialog yang kami siapkan dengan sangat sederhana ternyata memberikan gaung yang sangat luar biasa. Rekan-rekan panitia, para relawan yang sangat militan berhasil menjadikan konsep sederhana ini menjadi sebuah kegiatan dialog yang sangat produktif. Bahkan tidak sedikit media yang memberikan ruang untuk meliput dan menyajikan berita terkait aktifitas dengan Rustono ini. Untuk lebih lengkapnya silahkan simak di,

http://www.metrotvnews.com/read/newsvideo/2012/09/25/160258/Kenikmatan-Tempe-Terasa-hingga-Jepang-dan-Meksiko/6
http://finance.detik.com/read/2012/09/22/173548/2031138/68/ini-dia-si-raja-tempe-dari-jepang
http://www.tribunnews.com/2012/09/23/pengusaha-tempe-yang-sukses-di-jepang-awalnya-bellboy
http://www.medanbisnisdaily.com/news/read/2012/09/23/116674/ini_dia_rustono_raja_tempe_dari_jepang/

http://www.halojepang.com/sorotan/5617-tempe
http://uty.ac.id/2012/10/dialog-monozukuri-bersama-rustono-tempeh-dan-luisa-velez-di-fib-uty-2/
http://www.nonblok.com/event/item/31768-juragan-tempe-di-jepang-berbagi-pengalaman?tmpl=component&print=1
http://www.teknopreneur.com/dinamika/tempe-jelajahi-negeri-sakura
http://wartaekonomi.co.id/berita5389/rencana-ekspansi-king-of-tempeh.html
http://www.indopos.co.id/index.php/berita-indo-rewiew/27939-belajar-datangi-60-pengusaha-tempe-di-jawa.html